Kitties

Kitties

Rabu, 22 Agustus 2012

Battle of Choices

When logic and feeling are crashed.
I just don't know where to base.
Since standing on logic is hurt,
While standing on feeling is too risky.
People always say to base on both.
But, it's not as easy as making a bowl of chicken broth.
~Shafia Asy-Syifa~
260712-11:45

JILBAB ORANYE PENEBAR SENYUM

            Tiga puluh menit sudah aku mematut diri di depan cermin toilet kampus, yang saat ini beralih fungsi menjadi cermin pribadiku. Sebenarnya itu bukan semerta-merta karena keegoisanku. Salah mereka sendiri yang tidak memanfaatkan fasilitas ini di saat keemasan seperti ini. Ya, kau tau persis, bagi seorang pencinta mode, alias tukang dandan, sepertiku, pengetahuan tentang jam kosong toilet sangatlah penting. Hal itu berguna untuk memaksimalisasi penampilanku di depan publik. Maksudku, bagaimana bisa kudapat hasil maksimal jika harus berdesakkan dengan mahasiswi lain?

Bak tokoh nenek sihir di cerita puteri salju, tanpa peduli bahwa ia mungkin telah muak, kutanya cermin tak berdosa itu untuk kesekian kalinya. “Wahai cermin ajaib, siapakah wanita tercantik di negeri ini?”

“Dikau…”
“Dikau seorang, puteri Alya yang cantik jelita.” Sambung seseorang di belakangku.
“Regiza!” Pekikku. “Ngapain kamu ke sini? Ganggu ritualku saja!” Candaku.
“Memangnya tiga puluh menit masih kurang, non?”
“Kurang, sebentar…lagi.”
“Dasar tukang dandan! Walaupun sudah berhijab, masih…saja narsis!”
Kami pun tertawa kecil.
“Tapi gimana penampilanku ini? Tetap cantik kan, meski berhijab?”

Ia perhatikan aku dari ujung kepala sampai ujung kaki, kemudian tersenyum, tanpa mengatakan sepatah pun kata. ‘Pasti ada yang salah’ batinku cemas. Kuperhatikan lagi pantulan diriku di cermin tersebut. Kerudung langsung pakai atau biasa disebut bergo itu terlihat bagus-bagus saja disandingkan dengan atasan kaos lengan panjang dan blue jeans. Hmm, memang terlalu sederhana dan tidak biasa bagiku. Apa boleh buat, baju panjang dan jilbabku belum banyak, mengingat baru hari ini aku mengenakan jilbab. Tak mungkin juga kukenakan pakaian ibuku yang sudah ketinggalan zaman. ‘Plis, deh!’ gerutuku dalam hati.

“Kok senyum saja, Za? Kenapa, sih?”
Ga, aku heran saja, kenapa ya, kamu tuh ga bosan-bosan sama warna oranye? Tuh lihat! Jilbab, baju, sepatu, tas, sampai jam tangan, semuanya warna oranye!”

Aku hanya tertawa mendengarnya. Mana mungkin aku bosan dengan warna kesukaanku sejak kecil. “Kukira kenapa! Jadi, bagaimana penampilanku?” Ulangku. Ia lipat kedua tangannya di depan dada, seraya memicingkan sebelah matanya. “Cantik. Lebih cantik dari biasanya. Ini baru… penampilan seorang wanita muslim!” Jawabnya.

Aku tersipu.

Regiza mungkin memang bukan seorang wanita muslim. Ia seorang beragama katolik yang taat. Namun, ia sangat santun dan mampu menghormati orang yang berlainan agama. Ia bahkan, dengan tulus, mendukung mereka untuk menjalankan kewajiban agama mereka. Ya, sama seperti saat ini. Subhanallah.

“Jadi? Sudah siap masuk kelas?” Tanyanya dengan kedua alis terangkat.

            Aku mengangguk mantap. Kutarik otot-otot pipiku, siap menebar pesona, mengumpulkan garis-garis senyuman di seantero kampus. Yeah! Meskipun sudah berhijab, aku harus tetap eksis. Lalu, kami pun melangkah meninggalkan ‘markas’ pribadiku itu.

“Alya? Lo Alya kan?” Tanya seorang teman kelas kami. Radith.

Aku mengangguk, dan berusaha memberikan senyuman terbaikku. ‘Target pertamaku hari ini’ batinku.

“Aha..ha..ha..ha.. Lo salah minum obat ya? Atau kesambet jin Arab? Ha..ha..ha..ha..” Ejeknya. Ia tertawa terbahak-bahak sampai wajahnya memerah bak tomat busuk, sambil memegangi perut gembulnya. Regiza hanya bisa tersenyum.

            Tunggu, skenarionya tidak seperti ini. Harusnya, ia terpesona dengan penampilan baruku. Ini tidak benar. “Memangnya ada yang salah ya?” Tanyaku kesal. Dengan susah payah, Radith berusaha menghentikan tawanya. “Bagus sih, sebenarnya. Cuma gue kaget saja, tiba-tiba lo berubah begini. Biasanya kan lo suka pakai baju yang agak-agak menggoda iman.”

“Habis, aku malu. Mamaku berjilbab. Adik perempuanku, Afni, sudah dua tahun mondok di pesantren. Masa’ aku ga pakai jilbab juga. Gengsi dong!”
Woles,  non.. ayo dong  masuk kelas..” Ajak Radith, sambil menarik tangan kananku. Sedangkan Regiza, mengekor di belakangku.


Sesaat setelah kami memasuki ruang kelas, bagaikan sekelompok mahasiswa paduan suara, terdengarlah seruan yang tak kalah kompak dengan supporter bola di stadion Gelora Bung Karno. “Subhanallah!! Alya sudah taubat, rupanya!” Seru seluruh temanku yang sudah duduk manis di kursi mereka masing-masing. Langit runtuh saat itu juga.
Kondisi ini semakin memburuk saat Radith menambahkan dengan gaya dan intonasi yang ‘melambai’, “Sesuatu banget deh, Ya!” kemudian, mereka semua tertawa menang. Mereka menertawaiku!

Astagfirullah, siapa dalang dibalik semua ini? Siapa? Harusnya mereka memujiku, bukan mengujiku dengan entah apa namanya ini. Skenarioku GAGAL TOTAL. Aku tidak pernah diejek sebelumnya, aku selalu di-pu-ji! Oh! Ingin rasanya aku berlari keluar kelas dan menangis sejadi-jadinya. Tapi sepertinya, nasib baik sedang bosan berpihak padaku hari ini. Sosok dosen tergahar di kampus ini, Pak Anton, sudah bertengger di depan pintu kelas dan menebar sorotan mautnya mengitari kelas yang gaduh ini. We’re dead.
.ᵴ. 

Pagi ini aku terbangun dari tidurku dengan perasaan jengkel bukan main. Bukan hanya dipermalukan di depan kelas. Karena kondisi kelas yang gaduh bagaikan pasar burung, pak Anton membombardir kami dengan quiz dadakan dengan kesulitan tingkat dewa, selama dua jam perkuliahan itu. Meskipun, aku mendengar seseorang memasuki kamarku, aku masih enggan membalik badanku, apalagi kalau sampai harus bangkit dari pembaringanku.

“Kak.. Ayo bangun. Sudah siang.” Ujar ibuku, sambil mengusap kepalaku. Aku bergeming.
“Kak, kita kan sudah janji mau mendaftarkan Tito di pesantrennya Afni hari ini. Kasihan kan dia, om dan tante mu itu sibuk cari nafkah sampai tak sempat memperhatikan dia.”
Kali ini aku berbalik, sisi kemanusiaanku terpanggil.
Ibuku tersenyum, lalu mengusap kepalaku. “Anak baik. Mari bersiap. Kerudung oranye kesukaanmu sudah ibu siapkan.”
Aku mengangguk. “Terima kasih, mamaku sayang.”
Ia tersenyum, lalu melangkah anggun meninggalkan kamar.

            Air yang membasahi tubuhku membawa pergi rasa kesal yang tadi menggelayutiku, membawa kembali semangat juangku yang sempat surut karena kekalahan telak yang kudapat, kemarin. Ya, hari kemarin sudah berlalu. Mungkin tuhan mengujiku di hari pertamaku mengenakan jilbab. Tapi, aku tak akan menyerah. Hari ini aku akan lebih memesona lagi, menebar lebih banyak senyuman di muka bumi. Ya, benar, bukankah senyum itu shodaqoh? Semakin banyak aku tersenyum, atau membuat orang lain tersenyum, maka pahala yang kudapat akan semakin berlipat!

   Aku mengangguk-angguk mantap, sambil mematut diri di cermin meja riasku. Sapuan make up tipis sudah kupoles sedemikian rupa di wajahku yang rupawan. Penampilanku sudah hampir sempurna. Aku hanya perlu mengenakan jilbab oranye kesayanganku. Aku yakin, biarpun aku belum pandai membentuknya, aku tetap akan terlihat memesona. Lihatlah buktinya! Pantulan diriku di cermin itu begitu memukau. Maka dengan percaya diri tinggi, aku pun melaksanakan ritual penutupku.

“Wahai cermin ajaib, siapakah wanita tercantik di negeri ini?”
“Dikau seorang, puteri Alya yang cantik jelita.”

Kemudian, aku terkikik geli. Apa kata ibuku jika ia melihat kelakuan anaknya yang satu ini.
“Alya, kamu sedang apa sih? Kok tertawa sendiri?” Tegur ibuku yang kini berdiri di ambang pintu.

“Tidak ada apa-apa kok, ma. Alya senang saja bisa mengunjungi Afni.”
“Oh.. mama kira kamu kenapa. Oh ya, kerudung adikmu jangan lupa dibawa ya. Mama lupa memasukkannya ke tasnya.”
“Afni minta tolong setrikakan baju lagi?”
“Ya, katanya setrika wali kamarnya sedang rusak, jadi tidak bisa meminjam setrikanya. Yah, kamu kan tau sendiri, peraturan disana. Para santri tidak diperbolehkan membawa barang-barang elekronik.”
“Hmm, tapi kerudungnya yang mana ya?”
“Warnanya sama dengan kerudungmu itu. Nah, itu dia.” Ujarnya seraya menunjuk kerudung oranye yang menggantung di lemari jilbabku.
“Oh, Alya kira, punya Alya. Habisnya, mama taruh di samping kerudung kesayanganku sih.”
Ia tersenyum.
“Ya sudah, maaf. Maklum mama kan sudah berumur.”
Kami tertawa bersamaan. “Ya, mama, nanti Alya bawakan.”
“Mama tunggu di mobil, ya.”
Aku mengangguk.
.ᵴ. 

            Pemandangan di wilayah pondok pesantren ini selalu mengingatkanku akan kampung halamanku di pelosok Jawa Barat. Rerindangan pohon yang tak kenal lelah menaungi makhluk hidup di sekitarnya, juga, hembusan angin sepoi-sepoi yang menyapunya. Padahal, pondok pesantren ini tidak terletak di pedesaan. Subhanallah.

“Ayo, kita turun! Nanti, setelah beres urusan pendaftarannya Tito, baru kita kunjungi Afni di asrama puteri.” Ajak ayahku seraya membuka sabuk pengamannya.
“Mmh, Alya tunggu di mobil saja deh, pa.” Sahutku dari kursi paling belakang.
“Kak Alya, yakin? Kan di dalam mobil pengap.” Sahut Tito.
“Ya, nanti kalau aku bosan, atau kepanasan, kan bisa tunggu di saung-saungan dekat sini.”
Ayahku menghela nafas.
“Ya sudah, kunci mobilnya papa tinggal. Jangan lupa tutup jendela dan kunci mobil, kalau mau keluar.”
“Siap, bos!”
Ibuku tersenyum, lalu menggeleng, sebelum akhirnya bersama Tito dan ayah, meninggalkan aku sendiri. Benar, sen-di-ri, dan itu berarti..

“AKU BEBAS!!!!!!”

Aku tak akan bisa beraksi dengan ayah dan ibuku dekatku. Tak leluasa menimbun butir-butir pahala yang akan kudapat dari pesonaku ini. Maka, segera kupatut diriku pada cermin kecil yang selalu menunggui saku celanaku, membenahi make up dan jilbabku yang agak berantakan. Tanpa basa-basi lagi, kubuka rangka besi itu dan menguncinya.

Kudengar, pemuda-pemuda alim menyukai wanita yang anggun dan sholehah. Walaupun mungkin, aku belum menjadi wanita sholehah, setidaknya aku bisa menunjukkan bahwa aku adalah wanita yang anggun. Maka, aku pun coba berjalan seanggun mungkin. ‘Siapa tau bisa memikat hati seorang ustadz muda yang tampan.’

Baru beberapa meter aku melangkah, dua garis senyuman sudah berhasil kudapatkan dari dua orang santri putra yang berjalan mendahuluiku.
“Assalamu’alaikum, ukhti” Sapa mereka, masih dengan senyuman.
“Wa’alaikum salam.” Jawabku dengan nada lembut.
‘Awal yang sempurna!’

Mulanya hanya dua, lalu terus bertambah menjadi empat, lima, delapan, sepuluh, dua belas, lalu lima belas. Semakin banyak lagi senyuman yang kudapat, sejalan dengan menit-menit yang berlalu saat aku duduk di sebuah saung kecil dekat kolam ikan. Terlalu banyaknya senyuman yang kudapat, membuatku lupa akan hitungannya. ‘Ternyata mendapatkan pahala dari menebar senyum itu sangat mudah!’ Aku sangat menikmati saat-saat kejayaan seperti ini.

“Assalamu’alaikum, ukhti.” Ujar seorang pemuda seraya menghampiriku.
“Wa’alaikum salam…” jawabku dengan binar cerah di kedua mataku.
‘Tampannya……..! Tuhan benar-benar bermurah padaku hari ini.’ batinku gemas.
“Maaf ukhti, tapi tidak sepatutnya ukhti berada di sini.”
Kalimat itu sukses membuat kerutan di dahiku terpaut, menyatu.
“Maksud ustadz? Saya tidak boleh duduk di sini?”
Ustadz muda itu tertawa kecil.
“Loh, memangnya sudah berapa lama kamu di sini, sampai tidak mengerti peraturan di pesantren ini?”
Mungkin pikiranku terganggu akan ketampannan pemuda di hadapanku, sehingga aku tak mampu mencerna kata-kata yang ia lontarkan dengan baik. Maka, dengan polosnya aku menjawab. “Baru sekitar tiga puluh menit, ustadz.”
Kini, giliran alisnya bertaut.
“Tapi, bagaimana bisa….”
“Alya! Cepat kemari! Kita jalan ke asramanya Afni!” panggil ayahku dari kejauhan, memotong percakapanku dengan sang ustadz tampan.
Helaan nafas kekecewaan pun tak mampu kusembunyikan, “Maaf uztadz, saya harus pergi.”

            Aku pun berlalu, meninggalkan sang ustadz tampan dengan wajah keheranan. Sambil menggaruk dahi kananku yang tak terasa gatal, rasa penasaranku muncul. ‘Kira-kira, apa yang ingin dikatakan ustadz itu ya?’
“Hmm, dengan rok itu, kamu terlihat seperti santri yang mondok di sini, kak.” Ujar ibuku dengan garis senyum di wajahnya.

Tunggu, apa mungkin..

Itulah mengapa ustadz tadi bertanya aneh padaku. Aku pun terkikik, tak sanggup menahan geli yang menggelitik perut.

“Ih, kak Alya aneh! Tertawa sendiri tanpa sebab. Seperti orang gila saja!”
“Hei Tito, kamu kan masih kecil. Tidak perlu mengurusi urusan orang dewasa!”
Ia memberengut. Aku gembira.

            Beginilah rasanya kembali menjadi puteri cantik yang memesona. Dikelilingi oleh banyak pasang mata yang menoleh dan membalas senyuman manisku. Hanya saja, biasanya aku mungkin hanya seorang puteri iblis, yang tak bosan memamerkan auratnya. Aku pun berjalan perlahan, mengekor pada ayahku, ibuku, dan Tito.

“Kok banyak santriwati yang cekikikan sejak kita lewat ya?” Tanya Tito, memecah lamunanku.
“Ya, mungkin ada hal lucu yang sedang mereka bicarakan.” Jawab ayahku, bijak.
“Tapi aneh, om! Tito perhatikan, mereka tidak tertawa sebelum kita lewati!”
“Sudah, sudah, tidak baik su’udzon sama orang lain! Biarkan sajalah mereka tertawa sesuka hati.” Sahut ibuku.
Sedangkan aku? Aku hanya tersenyum mendengar celotehan anak itu. Sudah jelas bukan? Mereka tertawa karena terpesona melihatku. Mereka senang kedatangan tamu yang cantik jelita sepertiku. Ternyata pesonaku tidak hanya terpancar bagi kaum adam, tapi juga pada kaum hawa, yang mungkin, menyimpan rasa iri akan kerupawananku ini.   
.ᵴ.

“Kak Afni, aku heran deh! Masa’ dari tadi kami lewat, banyak santriwati yang menertawai kami!” Seru Tito, lagi, pada Afni.
Afni selesaikan suapan terakhirnya. Lalu meminun seteguk air mineral.
“Ah, mungkin itu cuma perasaan kamu saja, To.” Jawabnya.
“Iya, Afni benar, To. Kamu saja nih yang ke GR-an!” Sambungku seraya membantu ibu, merapikan bekas makan kami.
Tito mendengus. “Aku serius, kak! Laki-laki kan tidak seperti perempuan yang lebih mengandalkan perasaannya! Tito punya alasan logis kok!”
“Ya, ya. Alasan yang tadi itu, kan? Dari pada berisik begitu, lebih baik bantu kami buang sampah ini ke tong sampah.”
Aku pun menyodorkan sebungkus sampah padanya, sambil tersenyum licik.
“Akan Tito buktikan, bahwa dugaan Tito itu beralasan!”
Ia pun menghentakkan langkahnya karena jengkel. Aku tersenyum menang, sambil menopang dagu pada meja yang kami gunakan. Tak lama kemudian, ia kembali dan berdiri mematung di belakangku.

“Kak Afni, Tito boleh Tanya sesuatu?”
Afni mengangguk cepat. “Memangnya Tito mau tanya apa?”
Language Indiscipline Student, apa artinya?”
“Mmh, Murid yang melanggar disiplin bahasa. Kira-kira artinya seperti itu. Memangnya kamu dapat dari mana kalimat seperti itu?”
Ia kemudian tersenyum lalu tertawa terpingkal-pingkal sambil berjongkok dan memegangi perutnya.
“Kok malah tertawa? Tau dari mana kalimat seperti itu?”
“Dari situ!” jawabnya sambil menunjuk kearahku. “Dari tulisan hijau di belakang jilbabnya kak Alya!”

            Jawaban itu datang bak guntur yang menyambarku. Sontak kutarik sisi belakang jilbab yang kukenakan, ada tulisan hijau yang tak seharusnya ada di sana. Sementara Afni ikut tertawa, gelagapan, kubuka tas selempangku dan menarik jilbab oranye di dalamnya. Jilbab oranye itu mulus, tanpa ada warna lain sedikitpun.

“Kak Alya, yang kakak pakai itu kan jilbab yang kuminta tolong mama untuk disetrikakan! Minggu lalu, Afni dihukum untuk memakai jilbab itu selama tiga hari, karena tertangkap basah menggunakan bahasa Indonesia!”

Tanganku bergetar hebat. Jadi.. jadi sedari tadi, akulah yang para santri tertawai? Jadi, mereka tersenyum dan menegurku bukan karena pesonaku tapi karena jilbab sial ini? Tunggu, berarti, yang mungkin ingin dikatakan ustadz tampan itu…

“Tapi, bagaimana bisa kamu dihukum mengenakan jilbab itu, padahal kamu baru ada di pesantren ini selama tiga puluh menit?!”

Sekali lagi, langit terasa runtuh, menimpaku. Rasa malu yang tak tertahankan membungkamku hingga perjalanan kembali ke rumah. Hingga ibuku mengusap pelan kepalaku sambil menarikku dalam pelukannya.

“Alya, masa awal mengenakan jilbab memang mungkin terasa berat. Terutama, lingkungan sekitarmu yang kurang mendukung. Tidak seperti Afni, atau mama, yang mengawali berhijab sejak kami mondok di pesantren. Tapi mama yakin, Alya, anak mama yang cantik ini, tidak akan menyerah begitu saja pada gengsi atau rasa malu.”   

            Ya, ibuku benar. Mungkin, sejak kemarin, aku hanya memikirkan kesan orang lain padaku saat melihat perubahan ini. Tapi, mengapa aku harus peduli? Bukankah berhijab memang perintah Allah? Tuhan yang telah memberikan aku kehidupan di dunia ini. Tuhan yang telah begitu banyak memberiku nikmat-Nya. Astagfirullah, maafkan aku ya Rabb. Aku berjanji, sejak helaan nafas ini, akan kuubah niatku. Semula, mungkin, aku berhijab karena orang lain, tapi kini, aku akan berhijab karena-Mu. Hanya untuk mendapatkan senyum-Mu, bukan untuk mengumpulkan senyuman manusia, atau makhluk lain.

SELESAI

Tangerang Selatan, 22 0812-11:45
-Shafia Asy Syifa-        

Jumat, 06 Juli 2012

Jerat Xesbeth (Fantasi Fiesta 2012) REVISED VERSION

Jerat Xesbeth
Oleh Shafia Asy Syifa

Segala yang dapat kau lihat,
Palsu.
Sedangkan yang tak dapat kau lihat,
Nyata.
Penglihatanmu dibuatnya buta.
Beritahu aku, bagaimana rasanya,
Melihat yang bukan sebenarnya,
Namun akhirnya, merasakan hal sebaliknya.
*****
            Aku bukanlah seorang yang percaya akan hal-hal gaib dan semacamnya, biarpun anehnya, aku mempercayai adanya Tuhan. Satu-satunya alam selain alam nyata yang kupercayai hanyalah alam bawah sadar yang ditempati oleh mental atau jiwa seseorang. Tapi, aku menghargai kepercayaan sebagian orang tentang adanya alam gaib dan tidak pernah melarang seorangpun untuk berhenti mempercayainya. Aku tidak peduli. Lagi pula, apa yang bisa didapat oleh seorang psikolog dengan mempercayai hal-hal tidak penting seperti itu.
            Dua minggu pertamaku menjabat sebagai seorang staf konseling di sebuah sekolah dasar bertaraf internasional, berjalan mulus tanpa hambatan yang cukup berarti. Semua permasalahan siswa di sekolah ini masih dalam tahap wajar. Hingga akhirnya, tahap observasiku memasuki kelas tiga.
            Saat itu bel istirahat telah berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas untuk bermain dan membeli makanan serta minuman, kecuali seorang anak yang bernama Erick. Ia tidak beranjak dari kursinya. ‘Ia pasti membawa bekal. Mungkin ia tidak diizinkan untuk makan sembarang makanan.’ Pikirku. Namun, alih-alih mengeluarkan bekalnya, ia keluarkan sebuah sketch book beserta cat air dan perlengkapan lukis lainnya, sebelum kemudian mulai melukis. Hal itu menarik perhatianku.

“Kenapa ia tidak pergi keluar kelas seperti anak-anak lain atau memakan bekalnya?” tanyaku pada guru kelasnya.
“Tidak perlu cemas. Dia memang tidak pernah berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, tapi nilainya tetap bagus.” Jawab ibu Tari dengan  santainya.
“Sejak kapan?”
“Sekitar dua tahun yang lalu, sejak orangtuanya bercerai.” Jawabnya sambil melahap roti isi di hadapannya. Seolah-olah sikap Erick tidak membutuhkan atensi lebih.

Dengan sedikit geram di dada, kuhampiri anak tampan berambut hitam pekat yang sedang bermain dengan imajinasinya itu. “Hai, sedang apa?” tanyaku.
“……”  Ia tak menjawab. Masih menggeluti lukisannya.
“Saya miss Kania, atau kalau kamu keberatan, kamu boleh panggil saya kak Kania. Namamu Erick, kan?”
“……” Lagi-lagi aku diperlakukan seperti Jin yang tak kasat mata. Ia tak bereaksi sedikitpun.
“Ehm, sedang melukis apa?”
 “……”
Kuhela nafas perlahan sambil mencari jalan keluar. Kuambil secarik kertas HVS dari lemari, lalu duduk disebelahnya.
“Boleh saya ikut melukis?” Kali ini ia menoleh dan menyodorkan cat airnya padaku. Kami pun melukis sampai bel kembali berbunyi.
            Aku tahu, ia tidak bisu. Namun, belakangan, kuketahui bahwa Erick mulai berhenti berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya semenjak ia mulai melukis lukisan itu. Gambaran tentang sebuah tempat yang luar biasa indah dengan beragam tumbuhan dan makhluk yang indah pula. Ia selalu melukis dengan tema yang sama, menggambarkan detil-detil tempat menjadi karya yang berkonsep luar biasa. Lukisan tentang sebuah negeri lain yang mungkin hanya ada di imajinasinya saja.
*******
            Sebulan sudah kupantau dan coba untuk menterapinya, tapi hasilnya hampir nihil. Ia hanya bereaksi saat aku melukis bersamanya. Tapi satu hal yang kupahami, ia kesepian dan membutuhkan teman. Oleh karenanya, ia tidak pernah menghindariku. Walaupun masih, tak juga mengeluarkan sepatah kata pun padaku
Selama itu pula, aku masih belum menemukan benang merah antara kedua sebab ‘kebisuannya’ itu. Perceraian orangtuanya, dan lukisan-lukisan itu. Akhirnya aku pun sampai pada sebuah keputusan. Aku perlu mengunjungi rumahnya (melakukan home visit) untuk mengumpulkan data yang lebih terprinci.
Rumah tempat ia tinggal merupakan sebuah rumah bernuansa putih yang berdiri di atas lahan seluas dua ratus hektar. Rumah itu bergaya Eropa dengan empat patung besar sebagai pilarnya. Empat anjing herder dan dua orang satpam bertubuh kekar menjaga gerbangnya.
“Nyonya besar minta maaf karena tidak bisa menemui ibu Kania. Ada kepentingan yang tidak bisa ditunda, katanya. Nyonya juga sangat berterimakasih atas kunjungan Ibu Kania dan meminta saya membatu ibu, sebaik mungkin.” Ujar seorang wanita paruh baya berpakaian kasual.
“Silakan duduk. Oh ya, maaf, ibu mau minum apa?” sambungnya.
“Apa saja, yang penting minuman hangat.” Pintaku. Kebetulan, cuaca petang ini sangat tidak mendukung. Sekelompok awan Cumulonimbus sudah bertengger di kawasan sekitar rumah ini.
“Kalau ada yang mau ibu ketahui, silahkan tanyakan pada saya. Kebetulan, saya ini kepala pelayan yang merangkap sebagai pengasuh den Erick sejak lahir.” Tawarnya, setelah memerintahkan pelayan lainnya untuk membuatkan minuman.
            Setelah berbasa-basi sedikit tentang Erick, aku pun menanyakan inti dari benang kusut pemasalahan ini.  Kuteguk cokelat panas yang dihidangkan padaku. Kuputar otakku, mencoba menemukan pertanyaan yang tepat.
“Mmh, apa Erick pernah berinteraksi dengan ibunya atau orang-orang yang ada di rumah ini, sejak dua tahun yang lalu?”
Wanita itu menggeleng, lesu.
“Sama sekali?”
“Ya, tidak sama sekali. Den Erick hanya mengangguk atau menggeleng untuk menjawab pertanyaan kami.”
“Apa anda tau penyebabnya?”
“Entahlah, tapi semenjak den Erick kembali, setelah ia menghilang dari kamarnya di suatu malam. Ia membisu.”
“Menghilang?” Ini detil penting baru yang kudengar.
“Ya, hal itu terjadi tanpa sepengetahuan nyonya. Kebetulan, saat ia sedang dinas di luar negeri den Erick menghilang. Kami mencarinya keseluruh penjuru rumah, tapi tak juga kami temukan. Hanya sesaat sebelum saya memutuskan untuk  melaporkannya pada nyonya besar, den Erick kembali ditemukan, terbaring lemah di lantai kamarnya.”
“Boleh saya lihat kamarnya?”
Ia mengangguk. Lalu membimbingku menaiki tangga pualam.

Kamar Erick sangat luas, dengan segala fasilitas di dalamnya. Kamar ini semakin mencolok dengan sebuah foto berukuran super besar di depan tempat tidurnya. Foto ia bersama ibunya di depan menara Eiffel “Foto tahun lalu” ujarnya. Saat itu, Erick tertidur di ranjangnya.

“Pintu apa ini? Boleh saya buka?” Tanyaku pada si pelayan, saat melihat sebuah pintu di sudut ruangan.
“Ini pintu balkon, silahkan.” Ia buka pintu itu, dan segera menutupnya kembali karena angin kencang yang mendorongnya.
Tak lama setelah itu, terdengar suara debam keras dari luar kamar. Sontak, kami pun bergegas keluar kamar. “Maaf bu Kania, saya tinggal dulu. Ibu silahkan melihat-lihat sekitar.” Aku mengangguk, lalu kembali memasuki kamar.
Namun, saat kembali kumasuki kamar itu, Erick sudah tak lagi ada di tempat tidurnya. Secarik kertas gambar menggantikannya.

‘JANGAN IKUTI AKU’ bunyi tulisannya. Tubuhku bergetar.
‘Apa yang sebenarnya terjadi pada anak tak berdosa ini.’ Batinku.

            Kucari ia di sekitar kamar. Ia tidak mungkin meninggalkan kamar ini, karena tadi aku berdiri tepat di depan pintunya. Satu-satunya jalan keluar lain hanya balkon yang kini pintunya menejeblak terbuka, sehingga angin kencang dan tampias air hujan memburu masuk. Dengan gemetar hebat di sekujur tubuh, kulawan arah angin itu dan tergelincir entah ke mana.
******
            Paru-paruku dipenuhi air, nafasku sesak. Yang bisa kurasakan hanya air di mana-mana, sampai sesosok makhluk mengeluarkanku. Ia rebahkan aku di atas rumput selembut kapas. Aroma wangi pun mulai tercium. Samar-samar kudengar suara-suara yang tak dapat kumengerti. Hingga, ia mengalungkan sesuatu dileherku.

“Hei, kau bisa mengerti ucapanku, makhluk tanah?” Tanyanya, sambil menepuk-nepuk pipiku dengan tangan kecilnya. Kukerjapkan mata perlahan. Di depan wajahku, melayang sesosok wanita cantik yang tak lebih besar dari seorang bayi baru lahir. Aku terperanjat, terduduk mundur menghindarinya.
            Aku pasti sedang bermimpi. Bermimpi melihat makhluk juga tempat yang dilukiskan Erick di setiap lembar Sketch book-nya. Bentangan padang bunga berwarna-warni yang menglilingi sebuah sungai berair jernih. Tak jauh dari tempatku duduk, terhampar hutan tropis dengan paduan warna cokelat, hijau, beserta warna-warna indah lainnya. Kutepuk pipiku kencang-kencang, sakit. Lalu kuberanikan diri mencubit pipi makhluk menggemaskan itu di hadapanku.

“Ouch! Apa masalahmu?!” Protesnya sambil mengusap-usap pipinya. “Kau gila ya, melompati air terjun setinggi tiga ratus ribu kepak sayap!”
“Makhluk apa kau ini? Dimana saya?”
“Pengetahuan makhluk tanah memang dangkal sekali. Bagaimana bisa kami mengenal kalian, tapi kalian tidak mengenal kami? Namaku Gael. Aku penjaga gerbang dimensi ini. Kau?”
“Kania. Bisakah kau berhenti memanggil saya makhluk tanah? Risih.” Protesku.
“Bukankah kalian memang diciptakan dari tanah?”
“Menurut kitab memang begitu, tapi…”
“Sudahlah, ada hal yang lebih penting yang perlu kau jawab, bagaimana bisa kau masuk ke sini?”
“Saya tidak tahu persis. Tadi, saya mencari, Erick. Tunggu..”
“Oh, tidak, kemana dia pergi? Saya harus segera menemukannya!” Seruku seraya mulai mencarinya, berlari tak tentu arah.
“Hei, makhluk tanah, tunggu! Percuma saja kau mencarinya! Lebih baik kita sembunyi sebelum akhirnya aku bisa mengeluarkanmu dari sini!”

            Kuhentikan langkahku saat itu juga, dan hal itu membuat Gael menabrak wajahku. “Apa maksudmu?” tanyaku. Tapi, sayangnya, belum sempat ia menjelaskan apapun kepadaku, terdengar suara riuh rendah, mendekat.
“Oh, tidak Inilah alasan mengapa aku benci makhluk tanah. Kepanikan mereka mengacaukan segalanya. Cepat ikuti aku.” Bisiknya, sambil terbang ke arah semak tanaman bunga berwarna ungu. Kami merunduk bersama.

“Ada apa, Jendral Zeth?” Tanya sesosok makhluk tampan, bertubuh tinggi besar dengan pakaian bak prajurit Romawi, dengan suara berat, serak.
“Bau daging busuk, Pangeran!” Jawab sesosok unicorn bertanduk merah. Sontak kuendus tangan mungil Gael. Harum.
Ia mendengus kesal.
“Yang ia maksud itu, kau, bodoh!” desisnya geram. Aku mengerenyit.

            Entah sejak kapan mereka bergerak, tiba-tiba saja kami sudah terkepung oleh makhluk-makhluk indah itu. Peri bunga, roh pohon, harimau putih, merpati putih, Unicorn, dan banyak lagi yang lainnya, berdiri mengitari kami. Hening. Aku terkesima.

“Jangan terlalu senang, yang kau lihat ini bukanlah kenyataan. Sebentar lagi, pendar di matamu akan berubah muram.” Bisik Gael ditelingaku.

            Saat itu juga, tanah tempat kami berpijak bergetar hebat. Seiring dengan mantra aneh yang diucapkan oleh gerombolan makhluk-makhluk yang mengitari kami. Perlahan-lahan, pemandangan di sekitarku seakan meleleh. Padang bunga dan hutan tropis yang tadi kulihat, menjadi kering kerontang, tanpa sedikitpun warna cerah disana. Aliran sungai pun mengering, dan menyisakan ceruk panjang dan dalam seperti jalur ular raksasa.
Makhluk-makhluk indah di sekitar kami juga berubah, menjadi makhluk-makhluk mengerikan. Sang pangeran tampan, berubah menjadi monster bertaring tajam, dan Jendral unicorn itu berubah menjadi tengkorak kuda bertanduk merah menyala.
Tubuhku bergetar hebat. Perlahan, gerombolan itu menyingkir, memberi celah.  Di tengah celah itu, muncul sebuah pohon hitam teramat besar. Akar-akarnya melilit kedua tangan dan kaki seorang anak kecil berambut hitam pekat. Erick. Sendi-sendi lututku melemah, tubuhku bergetar hebat, tak kuasa menopang beban tubuhku, aku terduduk, lemas.

“Sudah ku bilang jangan ikuti aku!! Kenapa kakak tidak menurut! Kenapa? Bertahun-tahun kucoba untuk menyembunyikan semua ini…”
“… sekarang lihat apa yang telah kakak perbuat! Jika bukan karena kakak, saat ini aku masih bisa bermain dengan pangeran Tarvarian dan Jendral Zeth, juga teman-teman lainnya. Kakak jahat! Jahat!” Jeritnya, dengan deraian air mata.
Sorot mata dan getar suaranya menyiratkan rasa takut, marah dan kecewa. Aku tergugu, entah bisa berkata apa. Air mataku mengalir begitu saja karena penyesalan yang amat sangat. Tak pernah sekali pun aku bermimpi, mencelakai anak bimbinganku sendiri. Jika semua ini hanya mimpi, ingin rasanya segera terjaga. Ironisnya, semua ini nyata.
Baru kucoba menggerakkan tubuhku untuk mendekatinya, makhluk-makhluk di sekitarku segera menghalangi. Dengan sigap Gael meraih tanganku dan menarikku menjauh dari kerumunan itu. Tangannya yang bebas mengeluarkan cahaya menyilaukan dan membuat sebuah lubang di permukaan tanah. Ia dorong aku masuk kedalam lorong cahaya itu sambil berseru, “Maaf makhluk tanah. Saat ini tak ada yang bisa kau perbuat untuk menolongnya, kau harus kembali ke dimensimu. Jika saatnya tiba, akan kubukakan kembali pintu dimensi ini untukmu. Saat bandul kalung di lehermu berpendar, kau akan kutarik masuk kesini. Karena sesuatu yang sudah kau mulai, harus bisa kau akhiri. Bersiaplah.”
******
            Kepalaku sakit bukan main, kupegangi ia dengan kedua tanganku. Untunglah tempat aku terbaring terasa nyaman.“Ibu Kania baik-baik saja?” Tanya sebuah suara di sampingku. Kubuka mata perlahan. Aku terbaring di atas kasur di kamar Erick.
Kutegakkan diri, perlahan, masih dengan sebelah tangan menyangga kepala.  Tunggu, apa tadi aku hanya bermimpi? “Dimana, Erick?” Tanyaku pada pelayan di sampingku. Ia mengerenyit. “Maksud ibu?”
“Saya ingin bertemu Erick, sekarang.” Tegasku. Pelayan itu bertambah bingung. Kemudian, ia menghela nafas.
“Kalau memang itu yang ibu butuhkan untuk penulisan jurnal tentang den Erick, mari ikuti saya.”
‘Jurnal. Jurnal apa yang ia maksud?’ batinku.
Kuikuti ia perlahan meninggalkan ruangan.  Namun, belum sempat kami pergi, satu pemandangan janggal menahan langkahku. Foto Erick dan ibunya yang menggantung di dinding kamar itu, berubah. Hanya tinggal foto ibunya, berdiri sendiri di depan menara Eiffel.
Menyadari kebisuanku, si pelayan berdehem. Aku pun kembali mengekor.
            Wanita itu mengajakku melintasi pekarangan belakang rumah tersebut. Melintasi taman seluas tiga ratus meter dan berbelok ke sebuah lahan yang dibatasi pagar berwarna putih gading. Ia bimbing aku memasuki area tersebut, sampai pada sebuah pusara pualam berpahat nama, Erick Mulya Pradana.
Sendi-sendiku melemas.
“Kebetulan, hari ini tepat dua tahun meninggalnya den Erick akibat kecelakaan mobil. Walau bagaimanapun juga, den Erick tetap ada dihati kami.”

Ini tidak benar. Erick belum meninggal. Aku menggeleng tak percaya. Keringat dingin membanjiri tubuhku. Kuusap wajah dan leherku. Ada sebuah kalung berbandul batuan langka melingkari leherku.
“Ada apa, bu?”
“Ehm, tidak apa-apa. Saya kira kunjungan kali ini cukup. Terima kasih banyak.” Aku melangkah keluar dengan limbung. Segala hal yang terjadi hari ini benar-benar membuatku bingung, tak mampu kecerna dengan otak logisku yang picik.
*******
            Keesokkan harinya, hal aneh kembali kutemui. Semua data tentang Erick sejak kelas dua, hilang begitu saja. Bahkan namanya menghilang dari daftar hadir di kelasnya. Semua orang berkata persis sama dengan pelayannya. Erick sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu. Hanya beberapa bulan setelah orangtuanya bercerai.
            Butuh waktu berhari-hari bagiku hingga akhirnya aku sampai pada sebuah kesimpulan yang tak ingin kupercayai. Semua itu benar-benar terjadi, dan hanya aku yang menyadarinya. Semua keanehan yang terjadi di dunia ini terpengaruh dengan apa yang terjadi di dimensi asing itu.
Bayang-bayang Erick yang menjerit pilu menghantuiku setiap waktu.  Jika kenyataan bisa kuubah, lebih baik aku saja yang terjebak disana. Biar aku saja yang menanggung penderitaannya. Bayangkan, seorang anak harus menarik diri dari dunia sekitarnya selama lebih dari setahun, hanya untuk menyembunyikan keberadaan dimensi lain yang terlarang.
            Akhirnya, kini aku mengerti alasan Erick melukis dengan tema yang sama setiap hari. Jauh di dasar hatinya, ia pastilah ketakutan. Melalui lukisan itu, ia berharap ada seseorang atau keajaiban yang bisa membebaskannya. Meskipun mungkin ia tidak menyadarinya.
            Seminggu sudah Erick terjebak disana. Kupegangi kepalaku yang terasa berat sejak saat itu, dengan mata terpejam. ‘Waktumu hampir tiba. Bersiaplah.’ aku terkesiap, suara Gael terdengar begitu dekat. Bandul kalung di leherku berpendar menyilaukan. Anak tangga yang sedang kududuki mulai bergetar dan runtuh satu per satu, hingga akhirnya aku ikut tersedot kedalam pusaran kegelapan yang dingin dan mencekam.
******
“Kau baik-baik saja, makhluk tanah?” Tanya Gael setelah aku mendarat dengan sangat tidak sukses, “Menurutmu bagaimana?” seruku dari atas pohon seraya mencoba meloloskan diri dari batang pohon yang menghimpitku, kemudian jatuh ke tanah berdebu panas. Gael terbatuk.
“Bisakah kau mendarat dengan cara yang lebih cantik?”
“Bisakah kamu membukakan pintu dimensi di daratan? Dua kali saya kemari, dan dua kali juga saya terjatuh dari tempat tinggi! Beruntung kali pertama saya kemari, saya terjatuh kedalam air.”
“Oh, maaf kalau begitu. Sayangnya, saat kau datang, tidak ada gerbang darat yang aman dari Barbazos dan Orcka… ”
“Siapa mereka?”
“Iblis yang merasuki pangeran Tarvarian dan jendral Zeth.” Ya, aku ingat, dua makhluk indah yang menjelma menjadi iblis itu.
“Lagipula…” sambung Gael, “Kau tidak benar-benar terjatuh kedalam air saat pertama kau datang kesini.”
“Maksudmu?”
Gael menatap berkeliling. “Dimensi ini, sudah seperti ini jauh sebelum Erick muncul.”
“Tapi, saya benar-benar merasa...” potongku tak percaya, sebelum Gael menarikku menyusuri hutan gersang dengan batang-batang pohon yang mulai terbakar akibat suhu yang teramat tinggi.
“Maaf, tapi kita tak punya banyak waktu,” ujarnya dengan wajah berpendar. “Ada apa?” tanyaku kebingungan.
“Saat Xesbeth semakin kuat, maka aku akan semakin melemah. Ia akan mampu membuka pintu dimensi ini sesuka hatinya, mengambil jiwa makhluk tanah dan meemperkuat dirinya. Hingga akhirnya ia mampu menguasai dimensi manapun.” Jawabnya sampai akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang dikelilingi tebing-tebing hitam, runcing. Dengan bingung, kuikuti ia, menaiki undakan di kaki tebing tersebut. Ia sodorkan sebuah busur panah lengkap dengan anak panah yang baru saja ia sihir.

“Bidik bayangan diatas sana. Ia adalah arwah dimensi ini. Jika kau mengenainya, kau akan temukan jawaban atas setiap pertanyaan.” Ia tunjuk sebuah bayangan yang berubah-ubah bentuk, di puncak tebing.
“Tapi saya tidak bisa memanah!”
“Dengarkan baik-baik, kau hanya punya dua kesempatan. lebih dari itu, ia akan pergi. Jika kau tidak mendapat jawabannya, maka kau tidak akan bisa melewati tebing ini dan tak pernah bisa menyelamatkan Erick.”

Aku tak punya banyak pilihan, pendar di wajah Gael semakin cepat. Ia melemah. Dengan tangan beregetar hebat, kubidik bayangan bergerak itu. Anak panah pertamaku melesat, dan meleset. Kubidik lagi bayangan yang kini seperti menatapku, geraknya melambat. Bayangan wajah Erick pun menghantuiku. “Percayalah pada anak panahmu.” Ujar Gael. Kutarik nafas perlahan. Kupejamkan mata, lalu kutatap bayangan itu, tajam. Kulepaskan anak panahku, ia melesat cepat, lalu, mengenainya. Seketika itu juga kegelapan menelanku.

Ia tumbuh di dimensi kami, tanpa kami sadari
Bibit iblis bernama Xesbeth, si Pembohong,
Ia hisap sari kehidupan dimensi ini
Ia rasuki setiap makhluk di sini,
kecuali sang penjaga gerbang, sebab ia tak mampu melihatnya.            
Ia menjadi sempurna saat seorang makhluk tanah murni menjadi temannya,
Sebelum kemudian menjadi mangsanya dengan dalih pengkhianatan.

Hanya seorang makhluk tanah lain berhati tulus yang mampu mengalahkannya,
dengan menyentuh wajah si mangsa dengan tangannya yang berlumur darah pengorbanan.
Itu pun, sebelum ia benar-benar melumat habis mangsanya.
Di balik tebing ini, segala hal dapat terjadi,berhati-hatilah.

            Aku kembali di tempatku berpijak tadi. Tebing tinggi dihadapanku bergeser. “Siapkan panahmu! Jangan takut, mereka tidak dapat menyentuhmu selama Erick masih hidup. Incar inti merah di tubuh mereka!” Seru Gael. Aku pun melangkah menembus kabut tebal di hadapanku dengan Gael yang masih berpendar di sampingku.
            Disana, pasukan iblis yang dikepalai Barbazos menghadang kami. Kuarahkan anak panahku pada Barbazos, tepat mengenai inti merahnya. Satu per satu kulesatkan anak panah pada pasukan itu dengan mantap. Sebagian dari mereka tumbang, sebagian lagi mencoba menyerang balik dengan senjata mereka. Satu pukulan gada mengenai kaki kiriku, kakiku kebas, sakit luar biasa. Mungkin tulangnya patah. Entahlah. Iblis berbentuk banteng raksasa berkaki beruang berdiri di hadapanku, siap memukulkan lagi gadanya. Gael menarikku menjauh. “Bodoh! Jangan buang-buang waktu! Cepat seberangi jembatan itu! Erick ada di seberang sana. Aku dapat melihatnya! Kita belum terlambat!” Serunya sambil menarikku dengan sekuat tenaga.
            Kuambil sebongkah batang kering untuk menyangga tubuhku. Tergopoh-gopoh kucoba berlari menyeberangi jembatan di atas jurang gelap itu dengan Gael terbang rendah di sampingku, dan sekelompok iblis yang mengejar kami. “Akan kucegah mereka. Makhluk tanah, kupercayakan Erick dan dimensi ini kepadamu. Selamat tinggal.” Ujarnya seraya berbalik arah. “Tidak! Gael!” seruku. Entah apa yang terjadi setelahnya, tiba-tiba saja ada cahaya menyilaukan di dekatku, sebelum kemudian batuan besar menghantam jembatan dan memutuskannya. Kucoba meraih apapun yang ada didekatku dan menemukan akar berduri, pegangan jembatan itu. Aku berayun hingga tebing seberang dan menghantamnya. Linu. Peganganku mengendur, kurasakan duri besar menyayat kedua telapak tanganku. Darah segar mengalir membasahi lenganku. Tapi, jeritan Erick memudarkan rasa sakitku. ‘Biarpun aku harus mati, aku tak ingin mati sia-sia.’

            Kupanjat tebing itu, dengan tambahan goresan di tiap gerakan.  Semakin dekat dengan puncak tebing itu, semakin banyak darah mengalir dari tubuhku. Entah berapa lama lagi aku bisa bertahan, tubuhku memucat. Aku terengah, akhirnya sampai juga aku di permukaan datar. Tak jauh dariku, sebuah pohon hitam besar melilit Erick hingga leher, dengan akarnya. Erick hanya bisa menangis, tak lagi bisa bersuara. Aku tahu, waktuku sempit.
            Aku pun merangkak mendekatinya. “Sabar, sayang. Kakak akan menyelamatkanmu.” Bisikku, tersenyum kepadanya. Namun, tentu saja Xesbeth tidak tinggal diam. Ia lilitkan akar-akar besarnya di kedua kakiku. Walaupun, akar-akarnya berasap, mulai terbakar. “Bukankah kau tak kuat menyentuhku sebelum melumat habis Erick?” tantangku. Ia berkeras, begitu juga aku. Kutarik diriku mendekati Erick. Hanya semeter sebelum aku bisa menyentuh Erick, ia lilitkan akarnya di pinggangku. Aku meronta, mencoba membebaskan diri, tangan kananku mencoba menggapai Erick yang kini tertutup hingga mulutnya. Sedikit lagi, hanya sejengkal lagi aku bisa meraihnya, Xesbeth melilitku hingga leher, namun belum mampu meremukkanku. Erick melemah, ia menguat. Aku terus mencoba menggapai wajah Erick walaupun Xesbeth melilitku hingga kepala. Dari sela-sela akarnya kulihat Erick mulai menutup matanya. Aku menangis, putus asa.

“TIDAAAAK!!!” jeritku.

            Seketika itu juga akar-akar Xesbeth terlepas sehingga aku bisa menyentuh wajahnya yang bebas. Tapi, sudah terlambat. Erick menghilang bersamanya. Kegelapan kembali menelanku. Aku hanya bisa mendengar isak tangisku sendiri. Semua sia-sia, Erick telah habis oleh Xesbeth, Gael pun mungkin sudah tiada. Tinggal aku yang terjebak di sini sendiri. Tangisku semakin jadi, sampai cahaya kembali menyelimuti tempat ini.

            Cahaya yang awalnya hanya berwarna putih, berubah warna, menjadi cahaya yang begitu penuh warna dan terlihat nyaman. Suhu panas yang awalnya kurasakan, berangsur-angsur menjadi sejuk. Sesejuk udara pegunungan yang belum terjamah tangan-tangan curang manusia. Nyeri dan rasa sakit di sekujur tubuhku hilang begitu saja.

“Kakak, kak Kania. Bangun kak.” Seru sebuah suara kecil. Kukerjapkan mataku perlahan. Seorang anak laki-laki duduk disampingku dengan senyuman cerah.
“Erick!” pekikku. Aku terbaring di tepi sungai yang dulu kulihat. Ia mengangguk dan memelukku saat aku duduk.
“Terima kasih.” Bisiknya.
“Kita selamat? Bagaimana bisa?”  Tanyaku.
“Kakak menyentuhku tepat pada waktunya.”
Kami tertawa lega.
“Kalian makhluk tanah yang luar biasa. Bagaimana bisa kami membalas jasa kalian?” Tanya pangeran Tarvarian, dengan Gael, Jendral Zeth dan banyak makhluk indah lain di sampingnya.

            Kupandangi Erick dan Gael bergantian. Momen seperti ini sangat emosianal. Berat sekali mengutarakan apa yang ada di kerongkongan ini. “Katakanlah apa yang memang harus kau katakan, wahai manusia bijak.” Ujar pangeran tampan itu sambil membungkuk rendah, diikuti oleh rakyatnya.

“Tolong pastikan, tak ada orang lain yang bernasib sama dengan kami.”

Ia mengangguk dan memerintahkan Gael membukakan pintu kembali ke dimensi kami.
“Sekembali kalian ke dimensi manusia, gerbang ini akan kututup selama-lamanya.” Ujar Gael seraya membimbingku bangun.
“Baru kali ini kau menyebut kami manusia.” Sindirku
“Ya, kau harus memiliki kesan baik tentang kami disaat terakhir kan?”
Aku tak tau harus tertawa atau menangis mendengarnya. Kugenggam kalung pemberian Gael di leherku, gemetaran.

“Simpanlah. Setidaknya, kami hidup diingatan kalian, dan benda itu sebagai buktinya.”
Aku tertawa getir, hingga pelukan kecil Gael di tangan kananku memudarkannya. Erick ikut tersenyum, kemudian menarik pelan tanganku, menuntunku menuju gerbang dimensi.
“Selamat tinggal” bisik Erick, sambil melambai, hingga pemandangan di sekitar kami berganti menjadi sebuah tempat nyaman yang sangat kami kenal. Dunia nyata.

SELESAI

Sabtu, 18 Juni 2011

Jurnal 16 Juni 2011(02:30 - 03:00) ; Nyamuk, gerhana bulan, simba-ku malang

Jurnal 16 Juni 2011(02:30 - 03:00) ; Nyamuk, gerhana bulan, simba-ku malang

       Aku heran, seheran herannya dengan populasi nyamuk yang luar biasa padat di rumahku. Sesering apapun ia disembur dengan obat nyamuk, populasinya seakan tak juga berkurang. Empat kemungkinan terbersit di kepalaku: Pertama, terlalu banyak bunker-bunker persembunyian nyamuk di rumahku, sehingga memungkinkan mereka untuk berlindung saat serangan itu tiba. Kedua, terjadi kesalahan teknis pada saat penyemburan. Ketiga, mengkin saja si penyembur kurang profesional, atau, keempat, nyamuk-nyamuk itu bertambah kuat dari hari ke hari karena seringnya mereka diberi 'obat nyamuk' dan bukan 'racun nyamuk'. Entahlah.
        Karena tidak tahan dengan ganasnya serangan nyamuk yang merajalela, segera kutendang selimutku tinggi-tinggi(lebay mode on), dan bergegas mengambil senapan perang (red:semprotan nyamuk) dengan amunisi 1/4 dari kapasitasnya. Dengan senyuman sadis, kuarahkan senapanku dan mulai melakukan serangan balik secara membabi buta. Pasukan nyamuk itu mulai terbang berhamburan kesegala penjuru, menyelamatkan diri. Kukejar mereka dan mulai tertawa puas saat melihat mereka terbang mabuk di udara.
             " Tau rasa loe! hahaha, revenge is sweet" bisikku dengan seringai puas.
          Merasa cukup puas dengan aksi balas dendam itu, kembali kuletakan senapan dan mencuci tangan. Kulirik jam dinding di ruang keluarga, pukul 02:30 WIB.
            "Waduh, gue kan baru tidur jam setengah satu. Baru dua jam dong gue tidur. Mmmh! pokoknya kalo besok gue ngantuk di kantor, itu salah loe nyamuk-nyamuk ganas!" seruku kesal. 
            Kembali kulangkahkan kaki menuju kamar mungilku dan melanjutkan perjalanan ke pulau mimpi. Namun, baru sedetik kuletakkan kepala diatas bantal, bunyi hp dibawah bantalku mengagetkanku. 'Siapa yang SMS pagi banget, begini?' batinku bingung. Kuambil hp-ku dari tempat persembunyiannya dan melihat kotak masuknya. Nama 'Vido Salimo' tertera dilayarnya.'tumben mas Vido SMS jam segini' batinku. Tidak biasanya sahabatku yang satu itu SMS dini hari seperti ini. Kalau aku tidak terbangun karena nyamuk-nyamuk ganas itu, mungkin aku tidak akan mendengar dering SMS nya. Kubuka pesannya yang berbunyi "I'm awake suddenly and it's moon eclipse now. Come out. It's beautiful".
           " Gerhana bulan? bukannya gerhananya hari kamis ya?". Seingatku, sewaktu membaca artikel berita rabu tadi pagi, gerhana bulan total akan terjadi hari kamis dini hari. "Astaga. How stupid I am. Ya kalau sudah lewat jam 12 malam berarti sudah ganti hari dong!" Akupun bergegas menyambar jaket dan jilbab, bergegas keluar rumah untuk menyaksikan fenomena langka tersebut.
            "Teh, mau kemana?" tanya adikku yang terbangun saat aku 'gerabak-gerubuk' mencari jaket. Saat itu, nenekku yang hendak shalat Tahjud pun bertanya hal yang sama.
            "Mau liat gerhana bulan. Mau ikut?" Adikku menganguk dan bergegas membuntutiku.
            "Waduh, mana bulannya? cari, sad!" 
            "Ayo, ke Mushola aja!" Ajaknya
          "Perasaan waktu tengah melem beli mie di warung Akang, teteh liat bulannya keliatan dari jalan raya bukan dari mushola!"
          "Udah, ke mushola aja dulu, yuk!" bebalnya. Mau tak mau kuikuti kemauannya. Tapi sesampainya disana. Sang bulan belum juga terlihat. Sambil mencari-cari bulan, jemariku menari diatas key pad  Hp-ku, mencoba membalas SMS dari sahabatku. "Yes, me too. I'm out now, still looking 4 d moon" tulisku. Tapi sial, pesan itu tak terkirim entah mengapa. karena tak juga menemukan sang bulan dari sana, kuajak adikku itu ke arah berlawanan, ke tepi jalan raya. Tapi sayang langit diatasku kini mendung, aku baru saja berbalik karena putus asa tidak juga menemukannya, saat adikku menarik punggungku dan berseru "Itu, teh, bulannya!". Dan disana, di langit malam yang mendung, kupandangi bulan purnama yang mulai tertutup oleh bayangan bumi, sehingga rupanya menjadi bulan sabit. 
            "Teh, tapi ngga apa-apa kan liat gerhana bulan langsung? ngga ngerusak mata, kan?" 
            "Ngga' lah,, emangnya liat gerhana matahari? gerhana matahari yang ngga boleh diliat langsung!"
            "Ini baru mau gerhana bulan total atau udah mau selesai ya?" tanyaku. Adikku diam.
         "Loh, loh, kok bulannya ilang lagi? apa udah gerhana bulan total ya?" Tanya adikku saat sang bulan kembali menghilang. "Ngga' tau. Ketutupan awan kali...!! masa cepet banget ilangnya!" Jawabku tak sependapat. Dan benar saja, tak lama kemudian, bulan itu muncul lagi. Kami menatapnya selama sekitar 10 menit. "Kok lama banget sih gerhana bulan totalnya? Pulang aja yuk teh! ntar juga ada di berita. Asad ngantuk nyh!" Ajaknya. "Sebentar. Jarang-jarang tau bisa liat gerhana bulan." Sangkalku. "Ya udah, Asad pulang duluan ya" sontak aku berbalik "Jangan!". Jujur aku terlalu takut untuk berada di luar sendirian saat larut malam dan dini hari seperti ini. Akhirnya kamipun memutuskan untuk kembali ke rumah.
         Di jalan pulang, tak sengaja kulihat kucing kecil kesayangan kami duduk bertengger diatas tembok rumah tetangga. Oya, aku dan keluargaku memelihara kucing kecil berbulu lebat berwarna abu-abu dan putih, kucing kami itu sangatlah ganteng, namanya Simba. Karena kegantengannya, sahabatku yang bernama Karin 'si ratu kucing' berniat memboyongnya pulang, karena naksir si Simba, saat main ke rumah. Sayang, kucing itu pernah 'Poop' dan muntah didalam rumah. Karena waktu ia mengeong-ngeong minta keluar di suatu malam, tidak ada satu orangpun yang terbangun untuk membukakannya pintu. Sejak saat itu Ibu dan nenekku melarangnya masuk tidur di dalam rumah pada malam hari. Jadi beginilah nasibnya. Kedinginan diluar rumah.
         "Bawa masuk aja yuk, teh. Kasian Simba. Lagi juga kalo jam segini mah dia udah poop" ujar adikku. Aku mengangguk setuju. Sesampainya di rumah kembali kucoba mengirimi mas Vido SMS balasan, tapi gagal lagi. Aku masih penasaran dengan pemandangan gerhana bulan di langit Yogja, tempat ia berada saat ini. Akhirnya kucoba menelepon kekasihku terlebih dahulu  untuk membangunkannya. Memintanya melihat gerhana bulan di langit Pamulang, mungkin saja di saja langit Pamulang cerah pagi ini. Awalnya aku mengira ia tak akan terbangun, tapi senyumku mengembang saat suara serak-baru-bangun-tidurnya terdengar. Dengan semangat menggebu, akupun berkata: "Aa, bangun!! lagi gerhana bulan total nih!! keluar dong, tolong liatin gerhananya!soalnya disini mendung!" dan dengan bijaknya ia menjawab "Ngga' ah, biarin aja" jawabnya lesu. "Kok biarin aja?? 100 taun sekali loh adanya!!", "Ya biarin aja gerhananya, soalnya aku ngantuk" Jawabnya mencerahkan. "Ah, payah nih, ya udah sana tidur lagi!" balasku sebal. Pulsaku belum habis, tapi kenapa SMS ku tidak dapat terkirim? buktinya aku masih bisa menelepon kekasihku. Maka, kuputuskan untuk mencoba menelepon mas Vido. "Kalau ngga bisa, berarti emang pulsanya abis".
       Tapi ternyata pulsa di HP ku masih cukup untuk menelepon sahabatku yang satu itu. Kami pun berbincang-bincang via telepon selama sekitar dua menit. Ia menceritakan bagaimana indahnya pemandangan gerhana bulan yang dihiasi bintang gemintang disekelilingnya. Kebetulan langit Yogja saat ini cerah tanpa awan, katanya.  Tapi perbincangan kami terputus di tengah-tengah, pulsaku habis.
        Dengan pulsa habis dan kantung mata yang memberat, ranjang berkasur busaku seakan berubah menjadi magnet. Kuhempaskan badanku keatasnya. Lalu tertidur dengan nyenyak. Sampai seseorang berteriak. "Teteh awas simba ketiban!!". Tanpa kusadari, ternyata kucing kecil itu diam-diam melompat ke ranjang untuk tidur bersamaku namun bernasib sial. Maaf Simba, kucingku malang.





 


Kamis, 16 Juni 2011

2 Janji Leprechaun di Hutan Jekinstown


Oleh: Shafia Asy Syifa

            Di pagi hari yang cerah, hembusan angin yang menerpa wajahku, jadikan ia semakin membeku disejuknya angin musim semi. Ada perasaan membeku yang tak juga mencair di benakku saat ini. Kemungkinan-kemungkinan yang muncul bak slide-slide acak membuat tatapanku kosong tanpa nyawa. Segala sesuatu terjadi begitu cepat, begitu mengagetkan dan sangat membingungkan.
Kuambil lagi sepotong buku dongeng lama tentang sesosok makhluk fantasi asal Irlandia, serta foto tua, bertuliskan alamat yang sudah tak bertuan dari saku jaketku dan menatapnya lekat-lekat. Buku dongeng itu adalah buku favoritku ketika aku kecil, namun, ketika usiaku bertambah, buku dongeng itu hanyalah bagian dari indahnya fantasi kanak-kanak yang mustahil terjadi. Sampai saat ini, ada satu pertanyaan yang belum juga terjawab, mengapa buku dongeng itu terpotong? potongan yang kumiliki sejak aku kecil hanyalah buku bagian depan dan beberapa kisahnya. Kupejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengingat alasan mengapa aku berdiri bak orang bodoh disini, di sisi jalan daerah Dublin, Irlandia.
Ï
            Siang kemarin, merupakan siang terpanas yang pernah kurasakan di Jakarta. Akupun berlari masuk ke rumah tanpa mengetuk pintu. Dahaga yang menyengat di tenggorokanku memaksaku bertindak diluar kebiasaan. Segera kusambar saja gelas kosong diatas meja makan dan mengisinya dengan air dingin lalu menenggaknya habis.
“Kysa! Kapan kamu sampai? Kenapa tidak ketuk pintu sebelum masuk? Mengagetkan ayah saja!” Seru ayah sambil menarik kopor besar dari kamarku. Ia terengah, tubuhnya bergetar halus.
“Maaf ayah, tadi Kysa buru-buru, itu, untuk apa?” Tanyaku seraya melempar pandang ke arak kopor besar disampingnya. Ia menghela nafas.
“Masuklah, ada hal penting yang harus kita bicarakan.” Perintahnya sambil berjalan memasuki kamarku.
“Ada yang perlu kamu ketahui sebelum keberangkatanmu. Ayah harap kamu dapat mengerti. Jangan memotong, jangan bertanya, dengarkan saja baik-baik penjelasan ayah, waktu kita sempit.”
            Ia ulurkan sebuah potongan buku dongeng lama berjudul Tales of Leprechaun kepadaku. Sebuah buku dongeng anak yang mengisahkan sejenis makhluk fantasi asal Irlandia. Sewaktu aku kecil, ibu seringkali membacakannya berulang-ulang untukku. Lalu ia serahkan selembar foto tua. Foto orangtua berambut cokelat keemasan dan sepasang anak kembarnya dengan warna rambut yang sama. Satu bayi lelaki, dan satu bayi perempuan. Aku mengernyit, bingung.
“Mereka adalah orangtua kandungmu. Itulah sebabnya kamu memiliki warna rambut yang tidak sama dengan kebanyakan orang Indonesia. Kami, ayah dan ibu yang kau kenal, hanyalah orang suruhan orangtuamu. Ibumu melahirkan kalian di Indonesia, saat dinas. Mereka terpaksa menitipkanmu pada kami karena kesehatanmu dulu tidak memungkinkan untuk bepergian jauh.” Ia hela nafasnya perlahan, menatapku dengan miris.
“Namun, saat mereka hendak menjemputmu, sekawanan mafia Perancis yang menaruh dendam pada ayahmu, membunuh mereka. Jangan pernah berpikir bahwa orangtuamu terlibat dengan kelompok mafia itu, atau kelompok kriminal lainnya. Ayahmu hanyalah seorang saksi kunci yang tidak sengaja menyaksikan aksi mereka. Kesaksian ayahmu di pengadilan akhirnya menjebloskan kawanan itu ke penjara. Sejak saat itu mereka bersumpah untuk menghabisi keluarga kecil ayahmu, termasuk kamu, Kysa, dan saudara kembarmu, sekeluarnya mereka dari penjara. Mereka tahu kalian masih hidup, tapi mereka belum berhasil melacak keberadaan kalian. Setidaknya itulah kemungkinannya, karena kalian masih dibiarkan hidup sampai sekarang.
“Saat ini, mafia Perancis itu ada di Jakarta. Kami juga tidak tahu apa maksud kedatangan mereka. Namun bila mereka tahu kau ada disini, mereka akan memburu dan membunuhmu juga. Kami begitu khawatir. Sudah tidak aman lagi bagimu untuk tinggal disini. Semua harta peninggalan orangtuamu telah kami uangkan dan kami masukkan ke rekeningmu. Kami juga sudah pesankan tiket pesawat yang mengarah ke Irlandia sore ini. Maaf, kami hanya memiliki alamat terakhir yang diberikan orangtuamu. Namun telah kami tulis semua yang kami tahu dibalik foto itu. Jangan khawatir, saudara kembarmu mengetahui keberadaanmu. Walaupun kalian belum pernah bertemu, ayah yakin kalian akan saling mengenal.” Jelasnya panjang lebar, terburu-buru.
        


 Penjelasan itu membuatku kaget bukan kepalang. Kekagetan itu membungkam mulutku rapat-rapat. Lidahku kelu. Ayah menatapku nanar. Dengan gemetar hebat di sekujur tubuhnya, ia  memelukku erat dan berbisik.
“Selamat jalan, nak. Semoga keajaiban negeri dongeng itu membawamu menemukan keluargamu.”
Ï
            Hembusan angin dingin membelai rambut dan wajahku, memaksaku membuka mata. ‘Ini bukan mimpi’ batinku. Masih terngiang kalimat terakhir ayah tentang keajaiban negeri dongeng ini. Kubuka lagi halaman demi halaman potongan buku dongeng itu. Memandangi gambar makhluk mungil berjenggot yang dipercaya memiliki kemampuan untuk mengabulkan permohonan siapapun yang berhasil menangkapnya.
            Kupandangi lagi gambar Leprechaun di buku itu. Hhh.. Seandainya saja aku bisa menangkap salah satu dari mereka, tak akan kubebani ia dengan tiga permintaan. Aku hanya akan meminta dua permintaan padanya. Menuntaskan permasalahan keluargaku dengan para mafia Perancis itu dan menemukan saudara kembarku.
            Tapi dimana aku bisa menemukannya? Dataran Irlandia begitu luas. Lagi pula, aku tidak tahu harus berkomunikasi dengan bahasa apa jika bertemu dengannya kelak. Sedetik kemudian, aku terkesiap, lalu menertawai intuisi konyolku itu. 'menangkap Leprechaun, si makhluk dongeng di Irlandia yang luas', kedengaran jauh lebih konyol dibandingkan ide 'menangkap Nyai Roro Kidul di pantai selatan pulau Jawa'. Saking gelinya aku tertawa, seorang lelaki tua menanyaiku.
"Are you all right, young lady?” Kujawab bahwa aku baik-baik saja lalu kejelaskan mengapa aku tertawa sendiri. Lelaki tua itu hanya tersenyum, dan berkata,
"Well, you can start to find it in the early morning on Jekinstown wood on southern of Dublin. If you can't find it, at least you won't be so disappointed. It's middle of April, a carpet of bluebells spread along it." Ujarnya, sambil tersenyum dengan seringaian tak lazim.
Belum sempat kuucapkan terimakasih, sosok itu telah menghilang entah kemana. Bulu kudukku meremang. Namun, semisterius apapun lelaki tua itu, tak ada alasan bagiku untuk tidak mencoba sarannya.
Ï
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali di bagian selatan daerah Dublin, kutemukan diriku tertegun takjub akan maha karya Tuhan yang ada di sekelilingku. Sejauh mata memandang yang dapat kulihat hanyalah gradasi warna putih, hijau, cokelat, serta biru keunguan, udara segarnyapun seakan menusuk indera penciumanku. Hijaunya rerindangan  dedaunan bermeter-meter diatasku, yang disangga oleh batang-batang pohon yang kokoh berwarna cokelat, dihiasi dengan milyaran bunga lonceng biru keunguan. Karena luasnya hamparan bunga tersebut, kabut pagi yang biasa berwarna putih, kini bercampur dengan warna biru keunguan. Sungguh pemandangan yang luarbiasa indah memesona. Mungkin seperti inilah dunia para peri negeri dongeng yang digambarkan banyak orang, dan sekarang aku sedang berdiri terkagum-kagum menatapnya. Tempat ini mengingatkan akau pada mimpi masa lalu yang tak berhasil kuingat sepenuhnya. 
            Rindangnya pepohonan, serta rapatnya hamparan bunga lonceng biru seakan memanggilku, mengundangku untuk bersandar di salah satu batangnya. Kubuka kembali potongan buku ‘Tales of Leprechaun’ dipangkuanku. Kurentangkan buku dongeng itu dihadapan wajahku, kupandangi lekat-lekat gambar Leprechaun di lembaran buku itu, berharap dapat mentransformasi gambar itu menjadi nyata.
            Hembusan angin dan gemeresak kecil dedaunan seakan berirama, membuaiku bak lagu penghantar tidur terindah yang pernah kudengar. Sulit bagiku untuk membedakan, masihkah aku terjaga, atau tengah terlelap.
            Tak lama kemudian, bunyi pukulan palu dan gemeresak tanaman bunga lonceng biru terdengar halus, mengagetkanku. Kusapu pandanganku berkeliling, mencari sumber datangnya suara tersebut. Dan di sana, di antara rerimbunan tanaman bunga lonceng biru, kulihat siluet kecil berwarna hijau. Kudekati objek itu perlahan, mencoba untuk tidak membuat suara yang akan mengusir siluet kecil itu. Ketika cukup dekat bagiku untuk melihat dengan jelas, saat itu pula aku terperanjat dan hampir terjerembab mencium bumi. Namun, untunglah, sosok belum juga menyadari kehadiranku. 
          Di sana, duduk sesosok makhluk kerdil berpakaian dan bertopi hijau serta menggunakan ikat pinggang berwarna hitam, duduk memunggungiku dan melakukan sesuatu yang tak dapat kulihat jelas. Sepertinya ia sedang memukulkan palu diatas sesuatu.



Tanganku bergetar hebat, detak jantungku berpacu dengan sangat cepat. Itulah, itulah sosok yang sedang kucari, sesosok Leprechaun yang dapat mengabulkan keinginanku. Namun sosok Leprechaun yang satu ini agak berbeda dengan yang sering kulihat di buku-buku dongeng, Ia tidak tua dan berjenggot. Wajahnya juga tidak menyeramkan. Bahkan wajah itu terlihat ceria dan sangat ramah.
            Kuberanikan diriku untuk lebih mendekat. Saat sudah cukup dekat bagiku untuk meraihnya, kutelan liurku dua kali dan mendekapnya erat-erat. Tak lupa kulepas topi dari kepalanya, karena yang ku tahu, topi itulah yang memungkinkan mereka untuk berpindah tempat dalam satu kedipan mata. Ia meronta-ronta sampai sebuah koin emas terjatuh dari sakunya. Segera kukatakan padanya bahwa aku butuh bantuannya.
            “Ah… you got me” ujarnya pasrah ketika sadar pelukanku padanya sangatlah erat. Aku terkesiap, ia berbicara dengan bahasa Inggris standar, bukan bahasa Anglo Saxon atau entah bahasa lain yang tak kumengerti.
            “Okay. Please just give me my hat back and release me, I will make your three wishes come true as the reward” lanjutnya.
            “Please, I just want you to help me finishing my family's problem with the French Mafia and I want to find my twin brother.” Jawabku sambil meregangkan pelukanku. Dan memasang kembali topinya. Iapun mengangkat alisnya dan tersenyum lebar.
            “So, the little chick wants to make the foxes let it go? And let me suppose, why do you wish to find your twin!” lalu ia meneruskannya dengan lelucon konyol yang ia buat sendiri, yang kira-kira berarti: ‘karena semut dari lubang yang sama akan selalu saling mencari untuk mengumpulkan makanan!’, ia terkekeh geli. Padahal bagiku lelucon itu tidak lucu sama sekali. Akupun terdiam.
            Pada akhirnya, ia berkata bahwa ia akan menghapus habis ingatan sekelompok mafia Perancis itu tentang keluargaku. Sedangkan untuk menemukan saudara kembarku, yang kubutuhkan hanyalah menyusuri jejaknya menuju utara. Lalu, ia menghilang. Tiba-tiba saja pemandangan disekelilingku berubah, membawaku ke sebuah tempat temaram, berantakan. Diasana, terdapat seseorang berpostur tinggi dan berbadan kekar berdiri membelakangiku. Menembaki sebuah foto yang ditempel di papan tembak. Foto itu sudah berlubang dan berasap dimana-mana, namun aku masih bisa mengenali foto di papan tembak itu. Foto yang sama dengan foto tua milikku. Hatiku mencelos, 'Si mafia Perancis', batinku. 
        Lalu, semua terhenti, bak sebuah adegan film yang sedang dipause. Saat itu juga, suara nyaring si Leprechaun terdengar di ruangan itu. "So the foxes are gonna completely forget the little chick and her family from now on" ujarnya, seperti membaca mantera. Perlahan, gambar di foto berlubang itu mulai memudar, lalu menghilang sepenuhnya. Dan semua kembali bergerak lagi. Kulihat si mafia memandang heran foto putih kosong berlubang di papan tembak itu dengan pistol yang ia arahnya padanya. Iapun menjatuhkan pistolnya ke lantai  dengan suara yang cukup keras. 
        Aku terjaga. Masih duduk bersandar di tempat yang sama. Aku mendengus kesal. ‘ternyata hanya mimpi’ gerutuku dalam hati. Akupun memutuskan untuk bangkit dan mulai mencari Leprechaun sungguhan. Namun saat aku berdiri, ada sebuah benda yang terjatuh dari pangkuanku, benda itu berbentuk koin dan berpendar berwarna emas. Aku terkejut bukan main, kupungut benda itu, dan coba tebak, itulah koin emas yang tidak sengaja dijatuhkan si Leprechaun tadi. Namun ada keraguan terselip dihatiku. Kutimbang-timbang koin emas di genggamanku. Jika memang benar aku tidak bermimpi, apakah benar, para mafia Perancis itu sudah sepenuhnya melupakan kami? Bagaimana cara memastikannya. Kembali keperhatikan koin emas yang berpendar itu. ‘Biarlah waktu yang menjawabnya’ batinku pasrah. Tidak ada salahnya bagiku untuk mencoba petunjuk si Leprechaun tadi. Segera kuambil kompas dari dalam tas ransel besarku dan mulai berjalan menuju utara. Kulepaskan harapan setinggi-tingginya ke langit musim semi Irlandia.
Beberapa meter setelah aku melangkah, disana, di jalan setapak menuju utara, kulihat jejak-jejak kecil berpendar emas yang tersamarkan oleh rimbunnya tanaman bunga lonceng biru. Aku yakin, jejak itulah yang dimaksudkannya untuk kuikuti. Aku tersenyum senang melihatnya. Akhirnya satu petunjuk lagi muncul di hadapanku. Maka kumasukkan kembali kompasku dan mengeluarkan selembar foto tua dari saku jaketku. Ada hangat yang menyeruak dihatiku dan menjalar keseluruh tubuhku saat menyusuri jalan setapak itu sambil memandangi foto tua itu sesekali. Harapan untuk bertemu dengan saudara kembarku membuncah di dada dan hatiku, membuat dadaku sesak olehnya. Jantungku bertalu-talu seiring dengan irama nafasku yang menggebu, tak sabar akan kemungkinan yang mungkin ada didepanku.



Kupercepat langkahku, setengah berlari. Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru hutan untuk menemukan tanda-tanda keberadaan orang lain di hutan ini. Namun belum ada seorangpun yang terlihat. Asaku hampir pupus, saat melihat jejak-jejak kecil itu perlahan memudar dan menghilang satu per satu.
            “Oh tidak, tunggu, Jangan pergi dulu!”
Kucoba berlari sekencang mungkin, mengejar jejak yang masih tersisa tanpa memperhatikan lagi arah yang kutuju. Ketakutan mulai merayapi tubuhku, jejek-jejak itu semakin cepat menghilang. Kutambah kecepatanku, tak peduli akan beban tas punggung yang semakin bertambah saat staminaku mulai menurun. Semakin cepat jejak itu menghilang, semakin putus asa aku dibuatnya. Aku terengah, hampir kehabisan nafas, pandanganku mulai meredup, semakin redup, lalu semuanya tiba-tiba gelap. Tubuhku ambruk, masih memegang erat foto tua serta kepingan koin emas itu.
Ï
Denyut perih di dahiku membawaku kembali ke tempat yang dipenuhi oleh siluet cokelat dan hijau. Gelap yang menelanku perlahan memudar. Kukerjapkan mata perlahan. ‘Dimana aku?’ batinku, bingung. Tempatku berada saat ini merupakan ruangan yang tidak terlalu luas, namun ada hal magis di ruangan ini yang membuatku merasa familiar dengan ruangan ini. Seperti kembali ke masa lalu yang aku tak sadar pernah ada di dalamnya. Ruangan ini berornamen kayu, berhiaskan gambar dan hiasan-hiasan Leprechaun berwarna hijau. Semburat jingga kemerahan memasuki ruangan lewat jendela yang menghadap langsung ke hutan yang dihiasi hamparan bunga lonceng biru dikejauhan. Kucoba untuk bangkit dari pembaringan untuk dapat melihat lebih jelas. Denyut di dahiku bertambah saat kuangkat kepalaku dari atas bantal. Kuraba dahiku dan temukan perban yang menempel rapi diatasnya. Perban rapi juga menutupi pergelangan tangan kananku. Saat kucoba berdiri pun, ada nyeri di kedua lututku. ‘Apa yang terjadi? Mengapa banyak luka di sekujur tubuhku?’ Kupandangi lagi hutan berlatar jingga kemerahan disana. “Ah, jejak Leprechaun itu! tidak, aku tidak boleh kehilangan jejak itu, tidak seharusnya aku menyerah begitu cepat”. Saat itu juga kuputuskan untuk kembali mencari  jejak itu di hutan Jekinstown sebelum mentari benar-benar tenggelam, tak peduli denyutan-denyutan perih di sekujur tubuhku.
            Namun perhatianku teralih. Ada pemandangan janggal di ruangan ini. Semua pigura foto di ruangan ini setengah kosong. Separuh pigura-pigura itu terisi foto-foto seorang lelaki muda berambut cokelat keemasan. Seakan sengaja disisakan untuk separuh foto lainnya. Kusapu pandangan berkeliling, dan temukan pemandangan ganjil lainnya. Di atas meja mungil di samping ranjang, tergeletak sebuah buku kumpulan dongeng berwarna hijau tanpa cover. Judul yang tertera di halaman pertama berbunyi ‘3 Leprechaun’s Promises’, dan halaman itu bernomor 23. Aku terhentak, segera kurogoh saku jaketku dan melihat halaman terakhir potongan buku dongengku. “Tidak mungkin! Ini semua pasti hanya kebetulan.” Sangkalku saat melihat angka 22 di halamannya. Lantas, kusatukan kedua potongan buku itu, dan keduanya menyatu dengan sempurna. Lututku bergetar halus dan melemah seketika. Aku berlutut. “Tidak, hal ini belum membuktikan apapun. Belum”
            Ketika itu, terdengar ketukan pintu, dan seorang pria paruh baya masuk dan membungkuk. “Are you all right, Miss?” tanyanya seraya mendekati dan memapaku kembali ke ranjang. Aku mengangguk, lalu bertanya dimana aku sekarang. Iapun menjelaskan bahwa rumah ini adalah rumah tuan mudanya. Tuan muda-nya-lah yang membawaku kesini dan memintanya untuk menemaniku sampai ia kembali. Lalu ia menawarkan aku secangkir cokelat panas. Aku mengangguk dan berterimakasih. Pria paruh baya itupun meninggalkan ruangan.
            Tiba-tiba saja, bunyi ‘POP’ disampingku mengagetkanku. Ia melompat-lompat riang sambil melambaikan koin emas di tangannya.
            “I take this back as I’ve fulfilled my promises!” Serunya, masih sambil berlompatan.
            “No, I haven’t got any proof that the Mafias have forgotten us! And you haven’t taken me to my twin! Come back here!” Pintaku sambil berusaha meraihnya yang terus saja menghindar dariku. Ia terus saja mengucapkan kalimatnya itu tanpa mempedulikan aku yang juga terus berkata bahwa belum ada bukti riil bahwa mafia Perancis itu sudah tidak mengenal kami, dan aku belum menemukan saudara kembarku. Sementara aku kesulitan menangkapnya, ia terus saja melompat dan kini mulai berlompatan keluar jendela.
            “NO, COME BACK HERE!” perintahku. Namun sosok itu terus melompat menjauh. Akupun mengejarnya, melompat keluar melalui jendela kamar. Tak peduli denyutan perih dan nyeri disekujur tubuhku, pun dengan matahari yang hampir tenggelam. Terus kukejar sosok berlompatan itu sampai ketengah hutan. Saat sosoknya benar-benar menghilang, barulah aku tersadar bahwa aku tersesat. “Sial!”  geramku kesal.


Aku panik. Berlari ke arah cahaya yang masih tersisa. Nafasku mulai terengah. Semakin larut maka udara akan semakin dingin. Kugosok-gosokan kedua telapak tanganku yang telanjang, begitu pula dengan kaki-kakiku yang tak beralas. Bersandar pada pohon besar didekatku. Aku tak boleh pingsan lagi.
            Di sela kepanikanku. Sayup-sayup kudengar suara teriakan seseorang memanggil-manggil namaku. Kupertajam pendengaranku, dan suara itu semakin mendekat. ‘Aku pasti salah dengar. Tak seorangpun mengenaliku, disini’. Kutapaki jalan setapak didekatku, mencoba mengikuti arah suara itu. Suara itu terus saja memanggilku, kuatur nafasku untuk menahan perih yang semakin menusuk. Berjalan terseok-seok karena luka di kedua kakiku.        
           Tak lama kemudian, suara itu hilang, berganti dengan sesosok lelaki muda berambut cokelat keemasan beberapa meter dariku. Ia berlari kearahku, lalu berhenti tepat di hadapanku. Nafasnya terengah, mukanya merah padam, matanya merah dan berair. Kami saling tatap.
            “WHAT DO YOU THINK YOU’RE DOING? Kenapa pergi tanpa permisi?!” Teriaknya kehilangan kendali. Aku tertegun, ia bisa berbahasa Indonesia.
            “Kamu kira saya akan membiarkan keluarga saya pergi, lagi? Apa kamu tahu seberapa paniknya saya?! Dengar baik-baik. Beberapa jam yang lalu detektif baru saja memberitakan hal aneh bahwa para mafia Perancis telah bertingkah aneh! Mereka semua terkena amnesia, semua data dan foto tentang kita hilang begitu saja tanpa sisa. Kamu tahu apa yang saya pikirkan saat itu? Saya beranggapan bahwa keinginan saya telah dikabulkan oleh sesosok Leprechaun yang mendengar harapan saya tanpa harus menangkapnya!” Ia terengah, bahunyaturun-naik dengan cepat.
“Lalu diperjalanan kembali ke rumah, saya temukan kamu tergeletak ditengah hutan! Saya temukan foto kita dan sadar bahwa kamulah orang yang saya cari sejak dulu! Orang yang fotonya ingin saya sandingkan dengan foto saya, orang yang saya titipkan sepotong buku dongeng Leprechaun dengan harapan potongan itu akan membawamu kesini. Kamu tahu betapa bahagianya saya saat itu? Saya bawa kamu ke rumah dan merawatmu, meminta Albert untuk menjagamu sampai saya kembali, but suppose what? YOU’RE GONE! What are you doing here?” Jeritnya, memegangi pundakku.
            “Mengejar Leprechaun, menyelesaikan masalah dengan mafia Perancis dan menemukan saudara kembarku, William.” Jawabku polos.
            “I AM WILLIAM! Sayalah orang yang kamu cari! Tidak perlu mengejar Leprechaun lagi! Berhenti melukai dirimu sendiri! Saya tidak ingin kehilanganmu juga, Kysa!” Jeritnya geram. Ada dua anak sungai yang mengalir di pipiku akibat campuran rasa kaget, bingung, dan senang yang bercampur aduk. Iapun mendekapku ke dalam pelukannya. “Welcome home, sister” bisiknya ditelingaku. Air mataku bertambah deras.
            Tak jauh dari sana, sesosok Leprechun berlompatan riang sambil mengatakan “I took you here for an extraordinary ending! And this is an extraordinary one, I like it!” serunya sambil tertawa dengan seringaian persis seperti milik kakek tua yang kutemui sehari sebelumnya. Aku tertegun. Ia pun mengedipkan sebelah matanya, kemudian menghilang dengan bunyi ‘POP!’.   
         Selesai
  15/06/2011